Sunday, November 2, 2014

Virus Ebola Sudah Masuk Indonesia?

Virus Ebola. Sebuah kabar mengejutkan menjadi hits di televisi. Seorang TKI asal Kediri yang pernah bekerja di Liberia terkena suspect Ebola. Ia pulang dari Liberia setelah kontak kerjanya selesai sekitar tanggal 25 atu 26 Oktober 2014. Seperti kita ketahui Liberia merupakan salah satu negara endemik virus Ebola.

korban virus ebola
Korban Ebola
sumber poto odestory.com

Ebola merupakan virus yang sangat ganas dan cepat dalam penularannya. (Baca: Dunia Waspada Ebola). Sekarang semua negara waspada memelototi mobilitas penduduknya atau pendatang terutama dari negara-negara Afrika Barat.

Identitas penderita suspect virus ebola sekarang sedang dirawat dan diisolasi di RS Soedono. Memang masih suspect, artinya masih diduga karena ia sakit demam tinggi setelah pulang dari Liberia. Hal ini cukup mengkhawatirkan mengingat memang virus tersebut mudah menular dan sangat ganas. Di Afrika Barat sendiri sudah menelan korban 4.000 lebih meninggal dan 10.000 orang lebih terinfeksi.

Kewaspadaan Pemerintah Indonesia terhadap Ebola ini harus diacungi jempol. TKI yang suspect virus tersebut sempat ditahan di Bandara Soekarno Hatta. Langkah selanjutnya juga harus dilakukan adalah menelisik pesawat yang membawa SI TKI ke Indonesia. Seperti diketahui, di Afrika Barat sendiri banyak yang terinfeksi hanya gara-gara terkena sisa keringat atau cairan tubuh si penderita yang menempel di jok/kursi taksi. Begitu pula Bus yang membawa si TKI dari Jakarta ke Kediri harus diselidiki dan segera diambil tindakan.

Virus ebola bisa bertahan lama meskipun tidak berada dalam tubuh manusia. Kejadian-kejadian penyebarannya justru bukan dari kontak langsung dengan penderita/korban. Tenaga-tenaga medis pun banyak yang terkena, termasuk perawat dan dokter dari Amerika Serikat dan Inggris.

Masa inkubasi virus mengerikan ini selama 21 hari. Jadi setelah 21 hari dapat dipastikan seseorang yang suspect terkena atau tidaknya melalui pemeriksaan sampel darah. Sekian dulu tulisan ini semoga bermanpaat dan meningkatkan kewaspadaan kita terhadap virus Ebola

Monday, October 27, 2014

Susi Pudjiastuti Tamatan SMP yang Jadi Mentri

Susi Pudjiastuti Tamatan SMP yang Jadi Mentri -  Pendidikan bagi sebagian orang yang mampu mengoptimasi potensi dirinya, bisa berprestasi, membuat inovasi, terobosan dan mewujudkannya dalam karya nyata yang fenomenal, mungkin tak terlalu penting. Susi Pudjiastuti, orang Pangandaran yang hanya lulusan SMP, kini menjadi Mentri Kelautan dan Perikanan pada Kabinet Jokowi. Sesuatu yang luar biasa, jadi mentri tak harus lulusan universitas. Yang diperlukan adalah karya nyata yang febomenal.


Mentri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti

profil susi pudjiastuti

susi pudjiastuti pemilik susi air


Bagi orang Pangandaran (dulu bagian dari Kabupaten Ciamis, sekarang berpisah dan menjadi Kabupaten Pangandaran), sosok Susi tidak asing lagi. Tapi mungkin bagi daerah lain, agak asing, siapa Susi Pudjiastuti itu. Blog Bojonggedang Kamelang mencuplikan biografinya dari wikipedia.


Biografi Susi Pudjiastuti


Susi Pudjiastuti (lahir di Pangandaran15 Januari 1965; umur 49 tahun) adalah seorang Menteri Kelautan dan Perikanan dariKabinet Kerja 2014-2019 yang juga pengusaha pemilik dan Presdir PT ASI Pudjiastuti Marine Product, eksportir hasil-hasil perikanan dan PT ASI Pudjiastuti Aviation atau penerbangan Susi Air dari Jawa Barat. Hingga awal tahun 2012, Susi Air mengoperasikan 50 pesawat dengan berbagai tipe seperti 32 Cessna Grand Caravan, 9 Pilatus PC-6 Porter dan 3 Piaggio P180 Avanti. Susi Air mempekerjakan 180 pilot, dengan 175 di antaranya merupakan pilot asing. Tahun 2012 Susi Air menerima pendapatan Rp300 miliar dan melayani 200 penerbangan perintis

Ayah dan ibunya Susi Pudjiastuti yaitu Haji Ahmad Karlan dan Hajjah Suwuh Lasminah berasal dari Jawa Tengah yang sudah lima generasi lahir dan hidup di Pangandaran. Keluarganya adalah saudagar sapi dan kerbau, yang membawa ratusan ternak dari Jawa Tengah untuk diperdagangkan di Jawa Barat. Kakek buyutnya Haji Ireng dikenal sebagai tuan tanah. Susi hanya memiliki ijazah SMP. Setamat SMP ia sempat melanjutkan pendidikan ke SMA. Namun, di kelas II SMAN Yogyakarta dia berhenti sekolah. Setelah tidak lagi bersekolah, dengan modal Rp750 ribu hasil menjual perhiasan, pada 1983 Susi mengawali profesi sebagai pengepul ikan di Pangandaran. Bisnisnya terus berkembang, dan pada 1996 Susi mendirikan pabrik pengolahan ikan PT ASI Pudjiastuti Marine Product dengan produk unggulan berupa lobster dengan merek “Susi Brand”. Ketika bisnis pengolahan ikannya meluas dengan pasar hingga ke Asia dan Amerika, Susi memerlukan sarana transportasi udara yang dapat dengan cepat mengangkut lobster, ikan, dan hasil laut lain kepada pembeli dalam keadaan masih segar.

Pada 2004, Susi memutuskan membeli sebuah Cessna Caravan seharga Rp20 miliar menggunakan pinjaman bank. Melalui PT ASI Pudjiastuti Aviation yang ia dirikan kemudian, satu-satunya pesawat yang ia miliki itu ia gunakan untuk mengangkut lobster dan ikan segar tangkapan nelayan di berbagai pantai di Indonesia ke pasar Jakarta dan Jepang. Call sign yang digunakan Cessna itu adalah Susi Air. Dua hari setelah gempa tektonik dan tsunami Aceh melanda Aceh dan pantai barat Sumatera pada 26 Desember 2004, Cessna Susi adalah pesawat pertama yang berhasil mencapai lokasi bencana untuk mendistribusikan bantuan kepada para korban yang berada di daerah terisolasi. Peristiwa itu mengubah arah bisnis Susi. Di saat bisnis perikanan mulai merosot, Susi menyewakan pesawatnya itu yang semula digunakan untuk mengangkut hasil laut untuk misi kemanusiaan. Selama tiga tahun berjalan, maka perusahaan penerbangan ini semakin berkembang hingga memiliki 14 pesawat, ada 4 di Papua, 4 pesawat di Balikpapan, Jawa danSumatera. Perusahaannya memiliki 32 pesawat Cessna Grand Caravan, 9 pesawat Pilatus Porter, 1 pesawat Diamond star dan 1 buah pesawat Diamond Twin star. Sekarang Susi Air memiliki 49 dan mengoperasikan 50 pesawat terbang beragam jenis.

Susi menerima banyak penghargaan antara lain Pelopor Wisata dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat tahun 2004, Young Entrepreneur of the Year dari Ernst and Young Indonesia tahun 2005, serta Primaniyarta Award for Best Small & Medium Enterprise Exporter 2005 dari Presiden Republik Indonesia. Tahun 2006, ia menerima Metro TV Award for Economics, Inspiring Woman 2005 dan Eagle Award 2006 dari Metro TV, Indonesia Berprestasi Award dari PT Exelcomindo dan Sofyan Ilyas Award dari Kementerian Kelautan dan Perikanan pada tahun 2009. Pada tahun 2008, ia mengembangkan bisnis aviasinya dengan membuka sekolah pilot Susi Flying School melalui PT ASI Pudjiastuti Flying School. Pada Minggu, 26 Oktober 2014, dalam pengumuman Kabinet Kerja Pemerintahan Jokowi-JK Ibu Susi Pudjiastuti ditetapkan oleh Presiden RI Joko Widodo menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan.

Sumber:  lihat lebih lengkap di http://id.wikipedia.org/wiki/Susi_Pudjiastuti

Saturday, October 25, 2014

Pencuri Babak Belur Dihajar Masa

Pencuri Babak Belur Dihajar Masa -  Beberapa hari yang lalu, pencuri kambing tertangkap masa di Desa Sukahurip, Kecamatan Cisaga, Kab Ciamis. Konon kawanan pencuri itu kepergok pemilik kambing menjelang subuh. Awalnya yang tertangkap cuma 1 orang. Namun berkat kerja sama dengan masyarakat sekitar Desa Sukahurip, kawanan yang berjumlah 5 orang itu tertangkap, satu lolos. Pada hari itu juga ada kejadian perampasan motor pada anak-anak yang membawa motor, masih di Desa Sukahurip.

pencuri dihajar masa

Modus pencurian saat ini kalau ditelaah sebenar sudah bisa dibaca. Biasanya sebelum mereka melakukan pencurian, mereka beberapa hari sebelumnya survey dahulu, memetakan tempat-tempat yang bisa mereka datangi untuk operasi, rute pelarian, dll. Biasanya juga ada orang lokal yang menjadi petunjuk, namun ia bekerja secara rahasia.

Tindakan masyarakat yang menghakimi pencuri sampai babak belur itu sebenarnya secara hukum tidaklah dibenarkan. Tapi ketika kepercayaan kepada penegak hukum mulai terkikis, mereka akhirnya melepaskan kegeramnya dengan menghajar pencuri yang tertangkap. Di mana-mana sekarang ini bila ada pencuri yang tertangkap pasti babak belur atau beberapa kejadian malah dibakar masa. Sebuah penomena ketika masyarakat main hakim ramai-ramai. Bukan main hakim sendiri, tapi main hakim ramai-ramai. Rupanya "jabatan hakim" sekarang bisa dipakai alat mainan. Sebuah sindiran yang harusnya membuat bangsa ini berpikir, mengoreksi diri dan membuat sistem yang lebih baru.

Ketika si pencuri yang dihakimi masa itu bukan siapa-siapa kita, memang mungkin tidak akan ada perasaan/nurani yang bicara. Tapi ketika si pencuri itu kebetulan misalnya keluarga kita, teman kita, mungkin kita akan berpikir bahwa tindakan main hakim itu tidaklah tepat.

Catatan Kecil


  1. Saya tidak sedang membela si pencuri, tapi marilah kita lihat, ketika sebuah tindakan kejahatan diselesaikan dengan kekerasan, kita sedang bergerak mundur dan memakzulkan hukum untuk bertindak di atas keadilan  menyelesaikan semua masalah.
  2. Ketika pemerintah setempat tidak mampu mencegah kekerasan terhadap pelaku kriminal, sekali lagi hal itu memakzulkan hukum, dan kekerasan berkuasa. Ke depannya tindak kekerasan akan menjadi modus penyelesaian semua masalah, bukan hanya kriminal, bahkan tidak mustahil berbalik arah, masyarakat menghakimi pemerintah setempat bila pemerintah itu bermasalah. 
  3. Diakui atau tidak, kita sebenarnya lalai terhadap keamanan lingkungan. Ronda-ronda tidak aktip. Maka pelaku kejahatan pun leluasa bergerak. Kita pun menyumbang andil terhadap kesempatan tindak kejahatan terjadi.


Sisi Bahaya Jembatan Gantung

Catatan Kecil 

Sore tadi, sepulang dari proyek pengecoran jalan di dusun Desa, saya singgah di bengkel las, di Bojong. Sedang ngobrol, tiba-tiba terdengar suara yang jatuh di jembatan gantung. Brenggggg! Seperti menimpa bordes jembatan. Kebetulan suara apapun dari jembatan gantung sangat terdengar ke arah Bojong. Saya pun menelepon Sekdes yang kebetulan rumahnya dekat jembatan gantung, supaya melihat ke sana. Dan saya pun segera menuju ke sana.

Jembatan gantung Pongpet di Desa Bojonggedang
Jembatan gantung Pongpet di Desa Bojonggedang

Betul saja, sebuah motor tergeletak di ujung jembatan gantung sedang ditolong oleh Sekdes. Saya sempat berpikir, andai jatuhnya di tengah jembatan gantung, tak tahu apa yang terjadi. Mungkin saja motornya jatuh ke sungai. Atau malah orangnya yang jatuh ke sungai.

Rupanya, jembatan gantungnya licin karena ada sedikit hujan. Katanya ia ngerem dengan rem depan. Karena licin akhirnya ia terjatuh. Untung di ujung jembatan sehingga motornya menabrak tiang jembatan. Mengambil pelajaran dari kejadian tadi, sedikit tips untuk melewati jembatan gantung di Desa Bojonggedang.

1. Kurangi kecepatan bila melewati jembatan itu. Gunakan gigi 1 atau 2, apalagi bila dari arah Cikuda ke arah Dusun Desa.

2. Hati-hati bila hujan atau setelah hujan, karena dasar jembatan terbuat dari lembaran baja, hal itu menjadikannya licin. Jangan sekali-sekali menggunakan rem depan karena akan mudah terpeleset dan jatuh.

3. Bila tidak punya nyali, jangan coba-coba melintas dengan motor, lebih baik pilih jalur lain.

4. Bila dilewati dengan kecepatan tinggi, jembatan itu akan terasa bergoyang dan akan membuat oleng pada motor. Sekali lagi jangan melintas dengan kecepatan tinggi.

Demikian tips melewati jembatan gantung di Desa Bojonggedang. Semoga kejadian tadi tidk pernah terjadi lagi. Sekali lagi: ekstra hati-hati bila melewati jembatan gantung.

Friday, October 24, 2014

Peserta BPJS Harus Mempunyai Rekening

Cuplikan Berita dari jambi.tribunnews.com
Badan Penyelenggra Jaminan Sosial (BPJS) Indonesia merapkan peraturan baru, mulai 1 November mendatang peserta BPJS wajib memiliki nomor rekening. Dengan begitu, pembayaran iuran bisa melalui auto debet, yang secara otomatis akan dipotong dari tabungan setiap bulannya.
Logo BPJS

Langkah tersebut dirasa lebih efektif, dari sitem pembayaran iuran sebelumnya. Buat pembelajaran juga sebenarnya, dulu ada peserta yang waktu sakit dia bayar iuran rutin, tapi setelah sehat gak mau, ada yang nunggak sampai sembilan bulan, pas sakitnya kumat baru nangis-nangis minta pelayanan.
Kasus penunggakan pihak BPJS akan memberikan layanan bila semua tunggakan dilunasi, ditambah denda dua persen. Hal itu telah menjadi peraturan layanan peserta BPJS.
Saat ini pihak BPJS sedang menyiapkan untuk mensosialisasikan aturan baru tersebut, beberapa surat telah disebar di puskesmas, di dinas kesehatan, rumah sakit yang menjadi mitra BPJS.
(Sumber selengkapnya: jambi.tribunnews.com)

Thursday, October 23, 2014

Inilah Pembangunan Infrastruktur Tahun 2014

Inilah Pembangunan Infrastruktur Tahun 2014 -  Alhamdulillah, itulah kata pertama yang harus kita ucapkan, di tahun ini Desa Bojonggedang berhasil membangun infrastruktur jalan, memperbaiki jalan yang selama ini menjadi problem utama, di mana-mana jalan rusak. Satu persatu kita perbaiki, dengan kerja keras Pemerintah Desa dan masyarakat, kita bisa memperbaiki 3 kilometer lebih jalan yang rusak. Hal ini tentu masih sedikit yang kita capai, namun optimisme harus tetap dipertahankan, mengingat begitu panjangnya jalan yang kondisinya rusak. Insya Allah, dalam 5 tahun ke depan, minimal 60 % jalan yang rusak dapat kita perbaiki.




Inilah Pembangunan Infrastruktur Tahun 2014

Beberapa ruas jalan yang telah kita perbaiki sampai dengan bulan Oktober 2014 ini:

1. Jalan Banuwangsa, Dusun Sidamulya - Rabat Beton - Bantuan Pemerintah Kabupaten Ciamis - 1 km.

2. Jalan Cikamalayan, Dusun Sidamulya - Pengaspalan - Bantuan Dinas Pertanian - 500 m

3. Jalan Panyemprongan- Sidamulya - Rabat Beton - PNPM Perdesaan - 900 m

4. Jalan Cisorok - Dusun Desa - Rabat Beton - ADD I - 150 m

5. Jalan Pangbuangirang - Dusun Pangbuangirang - Rabat Beton - ADD II - 150 m

6. Jalan Kiyai Achmad Ngabe'i - Dusun Desa - Rabat Beton - Bantuan Pemerintah Provinsi Jawa Barat - 1 km

7. Sarana Air Bersih Tenaga Surya - Dusun Mulyasari - Bantuan PK PAM Jabar.

8. Kirmir Jalan Sindang Teang - Dusun Panyemprongan - Kirmir Jalan - Bantuan Cipta Karya Kab. Ciamis.

9. Embung - Dusun Panyemprongan - Embung - Bantuan Dinas Pertanian.



Wednesday, October 22, 2014

Dunia Waspada Ebola

Dunia waspada ebola - Penyebaran Ebola di Afrika Barat semakin mencemaskan. Tercatat 4.600 orang lebih telah tewas karena Ebola, dan 10.000 orang lebih telah terinfeksi. Seperti diberitakan oleh Harian Pikiran Rakyat (Rabu, 22/10/2014) wabah Ebola cenderung tidak terbendung. PBB kini menyerukan dunia agar membantu pendanaan untuk memerangi ebola yang memerlukan biaya sangat besar. PBB memebri peringatan, dunia mempunyai waktu (hanya) 2 bulan lagi untuk bertindak cepat agar virus Ebola tidak menyebar ke mana-mana.

Korban ebola di Liberia tergelak di jalan
Korban ebola di Liberia tergelak di jalan
(poto: www.express.co.uk)
Gambar Virus Ebola
Gambar Virus Ebola
(poto: www.realclear.com)

Poto pasen ebola
Pasien Ebola
(poto: www.md-health.com)


Sejauh ini biaya yang diperlukan sebesar 1 milyar dolar As. Sementara yang terkumpul jauh dari harapan, baru terkumpul 385,9 juta dolar As. Sementara ini akan menyusul sumbangan dari berbagai pihak sebesar 225,8 juta dolar AS. Sumbangan pribadi terbesar diberikan oleh Mark Zuckerberg (pendiri facebook) sebsar 25 juta dolar As. Meskipun epidemi Ebola baru terbatas ri Liberia, Sierra Leone dan Guinea, namun melihat keganasan virus tersebut, banyak pihak yang kuatir Ebola bisa menyebar ke seluruh dunia. Apalagi kini mobilitas manusia sangat tinggi antar benua.

Daftar Sumbangan Untuk Penanggulangan Ebola

Di bawah ini daftar sumbangan yang diterima PBB untuk penanggulangan virus Ebola di Afrika Barat per 20 Oktober 2014.

Bank Dunia                             105,00 juta dolar As   -     27,2 %
AS                                            89,85 juta dolar As   -     23,3 %
Bank Pembangunan Afrika         45,37 juta dolar As    -    11,8 %
Sumbangan swasta                    34,70 juta dolar As    -      9,0 %
Inggris                                      16,28 juta dolar As    -      4,2 %
Jerman                                     14,38 juta dolar As    -      3,7 %
Dana Darurat PBB                      13,85 juta dolar As    -      3,6 %
Australia                                   12,70 juta dolar As   -       3,3 %
Komisi Eropa                             10,47 juta dolar As   -       2,7 %
Lainnya                                     34,87 juta dolar As   -       9,8 %

Indonesia Belum Menyumbang

Melihat catatan sumbangan yang dirilis PBB, kita melihat Indonesia belum menyumbang untuk penanggulangan virus ebola ini. Padahal sebenarnya Indonesia rentan terjangkit virus Ebola melalui jemaah haji yang diwaspadai terjadi penyebaran selama berlangsungnya ibadah haji. Kita tahu ada orang-orang dari sekitar Afrika Barat yang melakukan ibadah haji dan berpotensi, sekecil apapun, membawa virus ebola. Meskipun penyebaran virus ebola sekarang masih di 3 negara Afrika Barat, namun Indonesia harus juga waspada terhadap masuknya virus Ebola ini.    




Thursday, August 7, 2014

Informasi tentang Ebola (Infographic)

Berikut ini adalah infograpfic tentang penyakit Ebola yang cukup informatif. Semoga bermanfaat.


Ebola

Tuesday, August 5, 2014

Cara Mencegah Ebola


Beberapa hari ini kita melihat berita tentang menyebarnya wabah ebola di Afrika Bagian Barat. Ebola Hemorrhagic Fever (Ebola HF) adalah penyakit mematikan pada manusia dan primata. Asalnya masih belum diketahui, namun sebagian besar peniliti percaya bahwa penyakit ini bersifat zoonosis atau yang berasal dari hewan.

Dinamakan Ebola merujuk dari nama sungai di Negara Kongo, tempat penyakit ini pertama muncul pada tahun 70an.

Walaupun Indonesia belum terjangkit dengan penyakit ini, namun untuk diketahui berikut ini adalah tips untuk menghindari infeksi, melindungi diri dan langkah apa yang harus diambil saat terinfeksi.


1. Pahami bagaimana penyakit Ebola menyebar.

Ebola menyebar dalam berbagai cara, utamanya melalui kontak langsung dengan penderita, khususnya darah dan sekresi pasien yang terinfeksi. Namun itu, kontak dengan benda-benda seperti pakaian, selimut, dan jarum juga dikaitkan dengan penyebaran penyakit ini.


2. Hindari bepergian ke daerah yang diduga atau dilaporkan.

Ebola berada di negara-negara Afrika Tengah dan Barat, dan menyebar disekitar fasilitas kesehatan dimana pasien tersebut dirawat. Tetap terinformasi mengenai daerah-daerah mana yang berbahaya. Info lengkap mengenai wilayah-wilayah mana yang diduga dan dikonfirmasi berbahaya dapat dicek melalui situs WHO berikut http://www.who.int/csr/disease/ebola/en/


3. Hindari kontak langsung dengan orang yang terinfeksi.

Karena penyakit ini menyebar terutama melalui kontak langsung dengan pasien yang terinfeksi, maka cara terbaik untuk menghindari infeksi adalah menghindari orang yang sudah sakit. Darah dan cairan tubuh lainnya dari pasien yang terinfeksi sangat erat kaitannya dengan penyebaran penyakut.


4. Hindari makan daging dari binatang liar/buruan.

Peneliti memiliki kecurigaan bahwa penyakit datang melalui hewan liar, dan hewan liar tersebut mengkonsumsi daging primata.


5. Ketahui gejala-gejala Ebola.

Gejala umum dari penyakit ini antara lain:
  1. Demam
  2. Sakit kepala
  3. Nyeri sendi dan otot
  4. Badan lemah
  5. Diare
  6. Muntah
  7. Nyeri perut
  8. Kurang nafsu makan
Gejala lain antara lain:
  1. Ruam
  2. Mata kemerahan
  3. Cegukan
  4. Batuk
  5. Sakit tenggorokan
  6. Nyeri dada
  7. Kesulitan bernapas atau menelan
  8. Pendarahan dalam dan diluar tubuh


6. Cuci tangan secara teratur dan bersih dengan sabun anti bakteri, istirahat yang baik, serta perilaku hidup bersih dan sehat.


7. Melaporkan kepada petugas kesehatan bila mengalami gejala-gejala terkait.

Semoga tips ini dapat sedikit memberikan pengetahuan bagi teman-teman mengenai penyakit Ebola. Adapun kunci utama pengendalian penyakit Ebola adalah efektifitas penanganan pada sumbernya serta melokalisasi penyakit agar tidak meluas.

Semoga pula, Kementerian Kesehatan dapat meningkatkan kapasitasnya dengan baik dan mensosialisasikan tentang penyakit ini kepada masyarakat luas agar (amit-amit bila terjadi) kita siap menghadapinya.

Demikian, bila ada tambahan dan masukan, sangat kami hargai :)

Sumber: Wikihow
Foto: European Commission DG ECHO

Tuesday, June 10, 2014

Video: Kira-kira Seperti Ini Pandemi Bila Terjadi


"We live in a complex world. The more advanced it gets, the more vulnerable it becomes. We've created a house of cards. Remove just one, and everything falls apart.
On Black Friday, a devastating pandemic sweeps through New York City, and one by one, basic services fail. In only days, without food or water, society collapses into chaos. The Division, an autonomous unit of tactical agents, is activated. Leading seemingly ordinary lives among us, these agents are trained to operate independently in order to save society.
When society falls, your mission begins."
Video diatas memang hanya animasi. Namun gambaran yang diberikan game terbaru Tom Clancy's: The Division ini cukup memberi rasa takut bagi yang melihatnya. Pandemic apocalypse atau kiamat pandemi saya anggap sesuatu yang baru untuk menjadi plot dalam video games. Kita biasa menemukan games dengan latar belakang kiamat zombie, kiamat alien, atau kiamat makhluk gaib.

Beberapa hal yang menarik untuk diketahui dari video tersebut yaitu bagaimana pelayanan umum lumpuh, masyarakat mengunci diri dengan mengumpulkan stok makanan dan minumannya, tidak ada penegakkan hukum, kehilangan orang-orang terdekat, dan runtuhnya norma-norma sosial.

Yang pasti hal pandemi belum terjadi, dan gambaran tersebut hanyalah suatu pengantar bagi para pemilik perangkat games untuk membeli games tersebut. Namun kita seperti diingatkan dan diperlihatkan agar selalu mewaspadai terhadap penyakit-penyakit menular yang berpotensi mewabah dan pandemi.

Semoga pemerintah kita ada yang hobi main games :)

Tuesday, May 13, 2014

Tips Mencegah Penyakit MERS-CoV

http://www.freedigitalphotos.net/images/protective-face-mask-photo-p174916


Melanjutkan artikel kami sebelumnya mengenai penyakit MERS-CoV berikut ini kami berbagi tips mencegah penyakit MERS-CoV:

Tunda bepergian ke Timur Tengah. Seperti kita ketahui, penyakit MERS-CoV berasal dari negara Timur Tengah yaitu Arab Saudi. Mengingat Arab Saudi adalah tempat suci Umat Islam untuk menjalankan ibadah Umrah dan Haji maka disarankan untuk menunda bepergian kesana khususnya bagi calon jamaah yang memiliki riwayat penyakit kronik.

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Dalam situs Kementerian Kesehatan dijelaskan topik khusus mengenai PHBS bagi jamaah haji antara lain:
  1. Makan 3 kali sehari dan jangan terlambat.
  2. Tidak menyimpan makanan lebih dari 2 jam, karena akan rusak (basi/berlendir).
  3. Minum air putih 1 gelas tiap jam.
  4. Gunakan masker yang dibasahi air, untuk melembabkan udara, mencegah mimisan dan debu.
  5. Memakai pakaian tebal dan menutup tubuh seperti kaos kaki, sarung tangan dan penutup leher untuk menghindari sengatan dingin.
  6. Cuci tangan pakai sabun. Sebelum makan, setelah buang air kecil/besar.
  7. Jaga kebersihan toilet/wc/jamban di pondokan/hotel.
  8. Kurangi kegiatan yang tidak perlu dan banyak menguras tenaga.
  9. Tidak merokok.
  10. Minum obat secara teratur sesuai jadwal bagi penderita penyakit tertentu seperti jantung, kencing manis, tekanan darah tinggi atau asma.
    Periksakan ke dokter sebelum melakukan perjalanan. Apalagi bila Anda mengidap penyakit kronik seperti hipertensi, penyakit jantung, diabetes, dan lain-lain, yang membutuhkan obat-obatan teratur.
    Etika batuk. Tonton video dari Kominfo dan Kemenkes berikut, jelas dan menghibur.



    Laporkan. Segera laporkan petugas kesehatan saat mengalami batuk, demam, sesak nafas. Gejala-gejala tersebut memang mirip seperti penyakit avian influenza maupun flu H1N1. Namun tetapi, penanganan secepatnya terhadap gejala-gejala penyakit tersebut adalah penting bagi kesembuhan Anda.

    Tetap terinformasi. Secara proaktif terus mencari informasi mengenai perkembangan kasus dan untuk memperoleh himbauan pemerintah mengenai penyakit MERS CoV. Berikut ini situs-situs penyedia informasi terkini mengenai MERS CoV:
    1. Update dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengenai Coronavirus
    2. Blog "MERS Watch"
    3. CIDRAP - Center for Infectious Disease Research and Policy
    4. Situs-situs berita online Indonesia terkemuka juga dapat kita ikuti.
    Demikian kami sampaikan tips mencegah penyakit MERS CoV. Semoga dapat memberikan informasi yang bermanfaat.



    Apresiasi untuk www.harianterbit.com dan Sira Anamwong / FreeDigitalPhotos.net

    Friday, May 2, 2014

    Sekilas Tentang Penyakit MERS



    Penyakit MERS atau Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS‐CoV) ada sejak tahun 2012. Dari data yang kami dapatkan sudah ada 254 kasus terkonfirmasi dengan 93 kematian. Dari keseluruhan kasus, yang terbanyak berasal dari negara-negara Timur Tengah seperti Saudi Arabia, Yordania, Kuwait, Oman, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Sisanya dari negara-negara seperti Perancis, Jerman, Yunani, Italia, Inggris, Tunisia, Malaysia dan Filipina. Dari negara kita sudah ada pula korban jiwa, namun tercatat meninggal di Saudi Arabia.

    Analisa Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa sebagian besar kasus yang terjadi melalui penularan antar manusia dan mengenai adanya penularan antara hewan ke manusia masih dalam penyelidikan.

    Gejala MERS


    Gejala MERS adalah seperti flu, infeksi pernapasan dan paru, batuk, demam, sesak napas dan pneumonia. Walaupun gejala-gejala tersebut adalah umum, namun, penting bagi pasien untuk cepat melaporkan kepada petugas kesehatan dan memperoleh perawatan terlebih setelah bepergian dari negara-negara Timur Tengah.

    Waspada dan Pencegahan


    Tindakan yang sangat penting dilakukan untuk mencegah penyebaran MERS yaitu meningkatkan kewaspadaan para petugas kesehatan, antara lain:
    1. Memastikan kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan untuk menyediakan perawatan untuk pasien yang diduga atau dikonfirmasi terinfeksi MERS.
    2. Mengambil tindakan yang tepat untuk mengurangi risiko penularan virus dari pasien yang terinfeksi kepada pasien lain, petugas kesehatan dan pengunjung.
    3. Melaksanakan standar prosedur operasional yang konsisten dalam penanganan pasien yang memiliki gejala ringan atau gejala khusus MERS.
    4. Melakukan pengawasan dini dan monitoring pada mobilitas manusia yang bepergian ke negara-negara yang terkonfirmasi MERS.
    5. Terus mensosialisasikan tentang penyakit MERS dan pencegahannya kepada masyarakat secara umum dan kepada orang-orang yang akan bepergian ke negara-negara berisiko seperti jemaah haji dan para pekerja luar negeri.

    Saturday, April 19, 2014

    Pandemi Flu 1918 Berasal dari China

    Grafis Asal Pandemi Flu 1918 (Sumber: National Geographic)

    Sebuah artikel menarik dari National Geographic yang menjelaskan tentang sumber wabah (pandemi) flu terbesar di dunia yang terjadi pada tahun 1918 mungkin saja berasal dari China. Adalah sejarawan asal Kanada bernama Mark Humphries yang melakukan penelitian terhadap catatan-catatan sipil dan medis.
    The deadly "Spanish flu" claimed more lives than World War I, which ended the same year the pandemic struck. Now, new research is placing the flu's emergence in a forgotten episode of World War I: the shipment of Chinese laborers across Canada in sealed train cars.
    Keterlibatan sekutu (Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Perancis, dll) pada Perang Dunia I menimbulkan kebutuhan yang besar akan tenaga kerja. Disaat para pemuda menjadi relawan membela negaranya, sektor-sektor pendukung seperti pabrik-pabrik senjata, transportasi, dsb tetap membutuhkan pekerja terampil. Karena itulah negara-negara sekutu mengambil ribuan tenaga kerja dari China.

    Selain dari itu disebutkan pula bahwa ada catatan mengenai wabah flu terjadi di China sebelum tahun 1918.
    In the new report, Humphries finds archival evidence that a respiratory illness that struck northern China in November 1917 was identified a year later by Chinese health officials as identical to the Spanish flu. 
    He also found medical records indicating that more than 3,000 of the 25,000 Chinese Labor Corps workers who were transported across Canada en route to Europe starting in 1917 ended up in medical quarantine, many with flu-like symptoms.
    Sehingga ketika wabah tersebut terjadi di Eropa dan Amerika, para imigran China sedikit yang menjadi korban. Ini karena mereka dirasa telah "kebal" daripada para warga Eropa dan Amerika belum memiliki ketahanan dari flu tersebut.

    Kita dapat memetik pelajaran berharga dari sejarah ini. Mengantisipasi mobilitas manusia yang saat ini semakin sulit diawasi dan jangan sampai sejarah berulang lagi seperti pada wabah SARS dan flu H1N1.

    Thursday, April 17, 2014

    Flu Burung Kembali, Kami Kembali

    Flu burung di Jepang (Sumber: Kyodo News)

    Berita mengejutkan datang dari Jepang. Negara maju tersebut mendapatkan kasus flu burung pertamanya sejak tahun 2011 seminggu yang lalu.

    Sebenarnya bila mengikuti pemberitaan, maka sejak tahun lalu pun, banyak pula berita tentang munculnya wabah flu burung diantaranya di Vietnam, Thailand dan di negara kita. Namun, kali ini cukup "membangunkan" saya. Karena wabah ini muncul di negara yang menurut saya terkenal tentang keamanan pangannya. Dan bila flu burung muncul di Jepang, saya sangat khawatir dapat pula muncul di negara-negara lain.

    Benar adanya, kemarin saya menemukan berita baru bahwa flu burung telah masuk ke Korea Utara. Virus H5N1 tersebut telah menyebabkan kematian sebanyak 46.000 ayam di dua peternakan.

    Dua kasus besar di negara-negara yang saya kira akan "aman" terhadap bencana biologis ini. Agar para aparat peternakan kita waspada. Melakukan langkah-langkah seperti pengawasan lalu lintas transportasi dan perdagangan unggas serta screening ketat. Sebuah tugas yang berat mengingat luasnya negara kita, tetapi akan sangat berarti mengingat banyaknya kerugian 8 tahun yang lalu.

    Sunday, December 27, 2009

    Kutipan-kutipan terbaik tentang H1N1 tahun 2009 dari media Kanada

    Quotes from newsroom voters who picked top Canadian news story in 2009
    Some quotes from voters who took part in The Canadian Press survey that chose the H1N1 flu pandemic as Canada's top news story for 2009:
    "The H1N1 flu scare is almost more famous for the way it was handled by the media than how it spread wildly across the country." Victor Krasowski, news director, CJUK-CKTG, Thunder Bay, Ont.
    -
    "It was a coast-to-coast story that people followed with interest no matter where they lived in Canada." Lesley Sheppard, managing editor, the Times-Herald, Moose Jaw, Sask.
    -
    "The H1N1 situation, while abated, still has many people on pins and needles. We run frequent updates and the public asks for more!" Peter Lapinskie, managing editor, the Daily Observer, Pembroke, Ont.
    -
    "Everyone was talking about H1N1, whether you got the shot or not." Scott Metcalfe, news director, 680News, Toronto
    -
    "Note that in Saskatchewan, H1N1 has killed 12, all with pre-existing conditions. Meanwhile, drunk drivers continue to kill more than the flu, and nobody gives a damn." Vern Faulkner, managing editor, the Daily Herald, Prince Albert, Sask.
    -
    "From junior hockey players in Sarnia, Ont., jumping the (flu-shot) queue to the death of 13-year-old Evan Frustaglio, no other Canadian story this decade, let alone this year, created such feelings of anger, fear and apathy among Canadians. It also begged the question: Is our government able to handle a major catastrophe?" James M. Miller, managing editor, the Daily Herald, Penticton, B.C.
    -
    "The way health organizations spun this issue, I expected people to be falling dead in the street. It didn't happen and once again the so-called experts got it wrong when it comes to a new virus hitting people. You can only cry wolf so many times before the public stops listening to your warnings. Or maybe people already have. Despite all the fear-mongering by health organizations, a large number of people have not bothered to get inoculated. You can count me among that group." Rocco Frangione, news director, CFXN FM, North Bay, Ont.
    -
    "Initially, what a mess! But we seem to have come out of this thing better than expected. If nothing else, we're prepared for the third wave." Gerry Phelan, corporate news director, VOCM, St. John's, N.L.
    -
    "There isn't a Canadian out there that isn't affected by or interested in the virus and how in may affect their families." Sandy Heimlich-Hall, assistant news director, CFJC-TV/B100/CIFM, Kamloops, B.C.

    Source: Yahoo News By The Canadian Press

    Monday, April 13, 2009

    Hidup Bersama Flu Burung

    Flu burung menjadi epidemi di negeri kaya burung. Indonesia mempunyai 1598 spesies burung--nomor 4 terbesar di dunia setelah Kolumbia, Peru, dan Brazil. Epidemi itu menelan korban jiwa. Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Departemen Kesehatan RI mencatat 112 orang meninggal dunia dari 137 kasus yang terkonfirmasi di Indonesia hingga 25 November 2008.

    Sebagian besar korban meninggal berdomisili di propinsi Jawa Barat (33 orang), DKI Jakarta (33 orang), dan Banten (28). Sisanya berdomisili di delapan propinsi lainnya. Anehnya, hampir semua korban meninggal dunia bukan orang yang sehari-hari bekerja di kandang unggas. Bukan pula orang yang bekerja sebagai penyembelih unggas atau pedagang unggas. Namun, justru orang yang sama sekali tidak bersentuhan dengan unggas.

    Sebaliknya jutaan orang yang bekerja di usaha peternakan unggas masih tetap sehat wal afiat. Mereka beraktivitas seperti biasa, sudah tidak takut lagi dengan kejadian flu burung. Virus yang pertama kali menyerang unggas pada pertengahan tahun 2003 itu tentu saja juga mengakibatkan puluhan juta ekor unggas terkapar. Kejadiannya hampir merata di seluruh propinsi di Indonesia. Hingga saat ini, kasus flu burung masih belum dapat diatasi dan korban manusia maupun unggas masih ditemukan.

    Menuding babi

    Yang cukup merisaukan banyak pihak adalah mekanisme penularan virus dari unggas ke manusia belum terungkap secara jelas. Buktinya muncul “keanehan” bahwa korban meninggal dunia bukan orang yang sehari hari bekerja di perunggasan. Ada juga yang mensinyalir bahwa penularan virus dari unggas ke manusia dimediasi oleh babi. Artinya, virus unggas menginfeksi babi, tetapi tidak mengakibatkan kematian.

    Virus dari babi kemudian menginfeksi manusia dan mengakibatkan kematian. Akibatnya banyak babi di Tangerang, Propinsi Banten, dibakar dan dimusnahkan. Namun, tidak ada bukti kuat tentang peran babi dalam penularan virus flu burung dari unggas ke manusia. Maka keberadaan babi pun dipertahankan sampai saat ini.

    Yang jelas, virus flu burung--khususnya tipe H5N1--dari unggas dapat mengakibatkan manusia meninggal dunia bila terinfeksi. Ayam kampung tak luput dari tudingan sebagai penyebab epidemi itu. Maklum peternak biasanya membiarkan ayam kampung mereka berkeliaran. Oleh karena itu ayam kampung yang banyak dipelihara di pemukiman menjadi momok paling menakutkan bagi sebagian besar masyarakat.

    Malahan beberapa kepala daerah menginstruksikan pemusnahan ayam kampung dan ayam lainnya. Ada juga yang membentuk Forum Masyarakat Anti Ayam. Aktivitasnya? Menumpas seluruh ayam di wilayah pemukiman dan sekitarnya. Padahal, selama ini mereka juga mengonsumsi daging ayam. Upaya membumihanguskan ayam kampung semakin menjadi-jadi. Para peternak ayam tentu tak tinggal diam. Mereka menentang keras upaya memberangus ayam kampung.

    Para pakar genetika juga angkat bicara. Mereka berteriak tidak setuju terhadap upaya pemusnahan ayam kampung. Keputusan yang salah bila ayam kampung dibersihkan dari bumi Indonesia secara serampangan. Jangan salah, ayam kampung di Indonesia merupakan salah satu nenek moyang ayam di dunia. Itu dibuktikan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang bekerjasama dengan International Livestock Research Institute (ILRI).

    Kedua lembaga riset itu menganalisis fragmen DNA ayam kampung dari berbagai pelosok Indonesia dan membandingkan dengan fragmen DNA yang sama dari ayam di beberapa negara lainnya. Ayam kampung harus dilestarikan dan dioptimalkan penggunaannya bagi umat manusia. Dengan melakukan penelitian secara lebih intensif, potensi genetiknya dapat digunakan sebagai bahan baku dalam pembentukan ayam modern yang semakin efisien, produktif, dan tahan terhadap penyakit.

    Hidup bersama

    Kerugian akibat flu burung yang merebak pada pertengahan 2003-2007, mencapai Rp. 4.1 Trilyun. Harap mafhum pada kurun itu banyak ayam musnah atau dimusnahkan, anjloknya permintaan ayam dan produk turunannya, berkurangnya konsumsi ayam di restoran atau di banyak warung kecil lainnya. Belum lagi kerugian dari sektor pariwisata. Itu belum termasuk hilangnya banyak kesempatan kerja akibat penurunan produksi ayam.

    Walau kejadian kasus flu burung pada manusia semakin mereda, kita harus tetap waspada. Selain itu kita harus lebih serius mencegah terjadinya kasus flu burung karena penyakit itu mengakibatkan pandemi atau penularan virus dari manusia ke manusia. Dari simulasi yang dilakukan seandainya terjadi pandemi flu burung, diperkirakan terdapat 66 juta orang sakit dan 150.000 orang meninggal dunia.

    Kerugian lain bila terjadi pandemi adalah tidak ada kegiatan ekonomi seperti pelayanan jasa bank, pariwisata, dan industri akibat banyak orang sakit dan kekhawatiran orang tertular sakit. Diperkirakan dalam jangka pendek kerugian mencapai Rp 14 Trilyun – Rp 48 Trilyun. Suatu jumlah yang sangat besar dan berefek domino yang sangat membahayakan stabilitas negara.

    Kita memang harus siap berdampingan dengan virus flu burung. Karena virus flu burung sudah endemik di Indonesia. Sebenarnya sangat mudah mencegah mewabahnya virus. Kunci utamanya adalah tertib dan disiplin melakukan pola hidup sehat dan bersih di mana pun kita berada. Ingat virus flu burung mudah ditularkan melalui berbagai kontak dengan media pembawa virus.

    Dalam perusahaan peternakan unggas, upaya mengamankan kehidupan unggas dari serangan penyakit mutlak dilakukan secara tertib dan konsisten. Ayam kampung yang selama ini diumbar di pekarangan harus dikandangkan di tempat bersih. Intinya adalah melakukan hal sederhana yang terkait dengan kebersihan dan kesehatan hewan yang berujung pada kesehatan manusia.

    Zoonosis

    Yang perlu diperbaiki antara lain pola pemotongan ayam untuk menyediakan daging konsumsi. Setiap hari, ayam dipotong di tempat pemotongan yang sebagian besar kotor. Bau anyir dan pemandangan menjijikkan menjadi santapan sehari-hari. Di situ pula salah satu penyebaran virus flu burung. Sebagian besar pasar tradisional tempat menjual daging ayam juga kotor.

    Daging kemudian diolah dan disajikan di banyak restoran atau dijajakan berkeliling di pemukiman penduduk. Hampir 80% konsumen di Indonesia membeli daging ayam yang diproses di tempat pemotongan yang jauh dari bersih dan sehat. Oleh karena itu, perlu ada gerakan bersih dan kampanye secara terus-menerus untuk mengubah kebiasaan konsumen yang membeli produk ayam seperti itu.

    Memang bukan perkara gampang. Namun, dengan adanya kasus flu burung diharapkan upaya itu dapat lebih mudah dilakukan. Bukankah hingga 2008 masih ada kasus flu burung? Permasalahan flu burung di Indonesia memang kompleks sehingga tidak mungkin membasmi virus flu burung secara tuntas. Seandainya tidak ada Komnas FBPI (Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza), bisa jadi kejadian flu burung semakin tidak terkendali.

    Sinyalemen itu menjadi benar karena ada kekhawatiran banyak pihak terhadap rencana pembubaran Komnas FBPI pada tahun 2010 mendatang. Yang penting untuk dicatat adalah bahwa penyakit zoonosis (suatu penyakit hewan yang dapat menular ke manusia atau sebaliknya) itu bukan hanya penyakit flu burung. Penyakit baru akan muncul dan penyakit yang dulu ada juga akan muncul kembali (emerging and re-emerging diseases). Ada lebih dari 150 penyakit zoonosis.

    Merebaknya penyakit zoonosis yang bisa muncul kapan saja dan dari mana saja menjadi kepedulian komunitas global. Penyakit itu tidak mungkin ditangani oleh para dokter manusia saja atau dokter hewan saja. Perlu pendekatan lintas disiplin ilmu dan pengetahuan yang melibatkan kedua profesi melalui pengembangan sistem “satu kesehatan satu dunia”.

    Oleh karena itu, amat sangat disayangkan apabila kejadian flu burung yang memakan banyak korban manusia, hewan, uang, dan energi tidak memberikan makna pembelajaran bagi bangsa Indonesia untuk bertindak lebih baik lagi, berpikir lebih cerdas lagi, berkreativitas lebih inovatif lagi, dan bekerja lebih profesional lagi.

    Muladno
    Guru Besar Pemuliaan dan Genetika Ternak pada Fakultas Peternakan IPB;
    Koordinator Bidang Perencanaan dan Pengembangan KOMNAS FBPI.
    Majalah TRUBUS No. 471 edisi Februari 2009.

    Sunday, March 15, 2009

    Pedoman Pembersihan dan Fasilitas Kendaraan saat Pandemi

    HHS (The United States government's principal agency for protecting the health of all Americans and providing essential human services.) baru saja merilis Pedoman Pembersihan dan Fasilitas Kendaraan saat Pandemi (Interim Guidance on Cleaning Transit Vehicles and Facilities during a Pandemic), yang dirancang untuk memberikan industri dan dunia usaha panduan tentang bagaimana cara terbaik dalam melindungi kebersihan kendaraan selama pandemi, dan dengan demikian mengurangi resiko untuk penumpang.



    Interim Guidance on Cleaning Transit Vehicles and Facilities during a Pandemic:





    Guidelines for individuals who are responsible for shipboard health and safety.

    Tuesday, May 20, 2008

    Tracking Influenza's Every Movement

    ScienceDaily (May 19, 2008) — It's the case of the missing flu virus. When the flu isn't making people sick, it seems to just vanish. Yet, every year, everywhere on Earth, it reappears in the appropriate season and starts its attack. So where does it go when it disappears? Does it hibernate, lying dormant in a few people and preparing for its next onslaught? Does it bounce around from the Northern hemisphere to the Southern hemisphere and back, following the seasons?

    Neither, it turns out. The virus's breeding grounds are in Asia, a crew of virus-hunters has found, and it then teems out to take over the world anew each year. New varieties almost always evolve in Asia and then hitch a ride with travelers, spreading to Europe, Australia and North America and finally to South America, where they die away.

    The work may make the flu vaccine even better than it already is. Because the flu virus is constantly evolving, scientists meet at the World Health Organization twice a year to decide whether to update the vaccine. Their job is made harder because they have to decide on a formulation a year in advance of when the flu will actually hit, to allow time for the vaccine to be manufactured and administered. So they have to predict which of the strains of flu virus are going to be causing the most disease a year down the line.

    "In order to try to predict how flu viruses might evolve, we have to understand how they're moving around the world and where they're evolving," says Derek Smith, now of the University of Cambridge and formerly of the Santa Fe Institute, corresponding author of the research. Asia, the study suggests, is the best place to look for up-and-coming strains.

    The team traced the virus's steps by studying 13,000 flu samples from around the world. The World Health Organization Global Influenza Surveillance Network collected this data between 2002 and 2007, keeping track of when and where different strains of the virus popped up. They analyzed the shape differences between the proteins each virus uses to bind to human cells, along with the genetic makeup of each virus.

    The team used this information to create an "antigenic map" which visually shows the relationships between all the different viruses. This map allowed them to determine the migration patterns of the virus around the world.

    "This work is highly multidisciplinary, with epidemiologists, computer scientists, computational biologists, mathematicians, virologists, immunologists, geneticists, veterinarians, and MDs," Smith says.

    The work was funded by an NIH Director's Pioneer Award to Smith given for highly innovative research that has the potential for big impacts.

    Journal reference:

    1. Russell et al. The Global Circulation of Seasonal Influenza A (H3N2) Viruses. Science 18 April 2008: 340-346 DOI: 10.1126/science.1154137 [link]

    Tuesday, April 22, 2008

    Finding a breakthrough on bird flu

    Anggota Panel Ahli Komnas FBPI, Dr. IGN Mahardika untuk Jakarta Post, 23 April 2008

    The nature of avian influenza A (H5N1) virus -- popularly known as bird flu -- itself brings difficulties in its control. Curbing its infection and spread needs to be well organized and concerted, nation-wide. Like a concert, there must be a single conductor.

    The intrinsic nature of the virus makes it difficult to be fully controlled. The vaccine should be adjusted to the most current strains. Antiviral agents might lose their effectiveness quickly.
    Moreover, a genetic makeup of that kind leads to a complex virus ecology. Considering evolution, the influenza virus is strictly species related. Avian influenza is limited to avian species only, while swine influenza to pig, equine influenza to horse, and human influenza to people.
    As proven, however, the bird flu virus is capable of infecting a variety of species. It has expanded its host range from domesticated birds to wild birds and mammals, such as dogs, cats, pigs and even tigers.


    Within this situation, the virus will continue to be disseminated by sick and healthy animals. It does not recognize any boundary. The risk in Aceh might be as high as in Java and Papua. It might happen in Indonesia, China, as well as in the United States. The risk level might differ in one area, depending primarily on animal and people densities. Wild bird and international travelers contribute to the globalization of the bugs.

    Nowadays, the control of bird flu in Indonesia is disorganized. There is a conductor in every related ministry. Down to provincial and district level, there are other conductors. In the name of autonomy, every province or district has its own strategy to control the bug.

    If we go deeper, the bird flu control does not find fertile ground within the community, private industry and government agencies. A part of the community is still unwilling to report any suspected case. People are afraid to be exposed by the media and their birds could be culled thereafter.
    So far, bird flu control initiative can not penetrate giant poultry industries. Top officers in this country have said, on various occasions, the state has no access to major poultry industries, known as sector 1 and 2.

    This kind of indifference is also supported by local governments. Officers try hard to keep any suspected case silent. The reasons vary. It might be for community stability, poultry industry existence, or tourism safety issues.

    We are dealing with a bug that could infect anyone in the planet, rich or poor. If it would happen, there will be no mantra to stop the industry people, their workers and families from becoming infected. The magic of tourism will also lose its sorcery.

    International agencies seem to work without coordination as well. Some projects sound very donor driven. Its sustainability is arguable. Some are carried out without the government and society's willingness to adopt them.

    The result, not surprisingly, is disharmony. We understand a lot of things have been done and a bulk of funds have been disbursed for bird flu control. Notwithstanding effort, animal and human cases happen out of control. Outbreaks are continuously reported. The up and down pattern expresses merely that the disease is endemic with very little human intervention.

    We should find a concerted action to handle this. It must be a single national task force. The National Committee on Bird Flu and Influenza Pandemic Preparedness (Komnas FBPI) was established to coordinate actions to control bird flu. Unfortunately, ego, funding, and autonomy issues have hampered its action.

    To be effective, the Komnas should be led by the president or vice president. The head of executive secretary should be a ministry level. This problem of the strata of officers, known as 'eselon', will be diminished.

    Komnas must be a task force that works at all level of activities, including research and surveillance, community awareness, communication, and legal and enforcement. It must work based on the best scientific evidence. All stakeholders, such as research institutes, universities, private industries, non-government organizations, lawmakers and enforcers, mass media, etc, must support the task force. All segments must work accordingly.

    Available funding should go to it. International donors should work under the Komnas umbrella.
    In this regard, international scientist collaboration is a must. The task force will be a port de'entre for international experts to work hand-in-hand with local counterparts.

    Nothing is at stake. Neither the livelihood nor poultry industry is. Neither the tourism industry nor national dignity is. We simply save life.

    The writer is a virologist at School of Veterinary Medicine, Udayana University, Denpasar, Bali. He can be reached at
    gnmahardika@indosat.net.id.

    Friday, April 18, 2008

    New Strategies Against Bird Flu

    ScienceDaily (Apr. 17, 2008) — Multiple lethal pathogens such as H5N1 avian flu trigger acute lung injury with a high death rate. Scares of an epidemic have led to an increasing interest in understanding the molecular mechanisms that lead to this condition. Scientists have now identified oxidative stress and innate immunity as a common pathway that controls the severity of ARDS.

    The Spanish flu outbreak of 1918 killed between 30 and 50 million people. In the infected patients, the ultimate cause of death was acute respiratory distress syndrome (ARDS). This fatal condition is a massive reaction of the body during which the lung becomes severely damaged. ARDS can be induced by various bacterial and viral infections, but also by chemical agents. These could be toxic gases that are inhaled or gastric acid when aspirated. Once ARDS has developed, survival rates drop dramatically. Among patients infected with H5N1 bird flu, about 50 percent die of ARDS.

    An international team of scientists has been addressing the underlying disease mechanisms for the past five years. The team involved researchers from leading institutions in Vienna, Stockholm, Cologne, Beijing, Hongkong, and Toronto as well as the US-army at Fort Detrick. The international effort was coordinated by Josef Penninger and Yumiko Imai of the Institute of Molecular Biotechnology (IMBA) of the Austrian Academy of Sciences.

    A first breakthrough came in 2005 when IMBA-scientists identified ACE2 as the essential receptor for SARS virus infections and showed that ACE2 can protect from acute lung failure in disease models (Imai et al. Nature 2005; Kuba et al. Nature Medicine 2005). Based on these data, ACE2 is now under therapeutic development.

    In a paper recently published by Cell, the authors describe an essential key injury pathway that is operational in multiple lung injuries and directly links oxidative stress to innate immunity. They also report for the first time a common molecular disease pathway explaining how diverse non-infectious and infectious agents such as anthrax, lung plague, SARS, and H5N1 avian influenza may cause severe and often lethal lung failure with similar pathologies.

    To identify these pathways, the researchers studied numerous tissue samples from deceased humans and animals. Victims of bird flu and SARS were examined in Hongkong, and the US-army provided samples from animals infected with Anthrax and lung plague. Common to all ARDS samples was the massive amount of oxidation products found within the cells. Based on these findings, the scientists showed that oxidative stress is the common trigger that ultimately leads to lung failure.

    To elucidate the entire pathway, Yumiko Imai of IMBA developed several mouse models. She was now able to show that a molecule called TLR4 (Toll-like receptor 4) is responsible for initiating the critical signalling pathway. TLR4 is displayed at the surface of certain lung cells called macrophages, important players of the body's immune system. Once activated, TLR4 initiates an entire chain reaction which ends with the fatal failure of the lungs. Surprisingly, mice challenged with inactivated H5N1 avian influenza virus also dveloped the full reaction. On the other hand, mutant mice in which the function of TLR4 was genetically impaired were protected from lung failure in repsonse to the inactivated virus.

    Based on these findings, the researchers can now outline a common molecular disease pathway: Microbial or chemical lung pathogens trigger the oxidative stress machinery. Oxidation products are intrepreted as danger-signals by the receptor TLR4. Subsequently, the body's innate immune system is activated. This defense machinery in turn leads to a chain of reactions with severe and often fatal lung damage as a consequence.

    For Yumiko Imai, a Postdoc in Josef Penninger's team and pediatrician by training, these results are highly satisfying. Her motivation to study ARDS is based on personal experience in over 10 years at a pediatric intensive care unit. "I have seen so many children die from acute lung failure and felt utterly helpless", Imai says. "Since we found a common injury pathway, our hopes are high that we may be able to develop a new and innovative strategy for tackling severe lung infections."

    The paper "Identification of oxidative stress and Toll like receptor 4 signalling as a key pathway of acute lung injury" by Imai et al. will be published on April 18 in Cell, Vol. 133(2).

    Adapted from materials provided by Research Institute of Molecular Pathology, via EurekAlert!, a service of AAAS.